Senin, 19 Desember 2011

MANAJEMEN KONFLIK
  
MAKALAH KONSEP DASAR MANAJEMEN KONFLIK
DI SUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MODUL MANAJEMEN KEPERAWATAN
Dosen pengampu :Andriyani Mustika, S.kep.Ns
Logo%20STEKES%20KENDAL
Di susun oleh:
Kelompok 2
1.        SILVIAN HENDRA FENDIANTOKO                        (SK.109.169)
2.        SITI CHAERIYAH                                            (SK.109.170)
3.        SRI NURHAYATI                                             (SK.109.182)
4.        SUCI DEWI RAHAYU                                     (SK.109.183)
5.        TRI WULAN                                                      (SK.109.195)
6.        TRI YULIONO                                                   (SK.109.196)
7.        WIRDA RO’IKHATUT TAMAMAH               (SK.109.208)
8.        YUWIENDA TYAR ASMARANI                   (SK.109.215)
9.        ZULFA ISTATI MAHARDANI                                   (SK.109.221)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL
2011
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya yang dilimpahkan kepada kami sehingga kami dapat melaksanakan tugas membuat makalah ini walaupun sangat sederhana.
Tujuan membuat makalah ini guna melengkapi salah satu tugas mata kuliah Modul  Manajemen Keperawatan. Disamping itu juga menambah pengetahuan tentang manajemen konflik.
Dalam kesempatan ini pula kami mengucapkan terima kasih kepada :
  1. Tuhan YME.
  2. Ibu Andriyani Mustika, S.Kep.,Ns. dan Tim selaku koordinator dosen pengampu mata kuliah Manajemen Keperawatan.
  3. Serta teman-teman yang telah membantu dalam menyusun makalah ini.

Kami percaya bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan. Maka dari itu kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca semua.

Kendal, 20 Desember 2011

Penyusun





BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Organisasi merupakan tempat manusia berinteraksi yang mempunyai kemungkinan terjadinya suatu konflik. Konflik ini bisa berhubungan dengan perasaan termasuk perasaan diabaikan, tidak dihargai, atau beban berlebihan, dan perasaan individu yang menimbulkan suatu titik kemarahan. Konflik dapat diartikan sebagai suatu bentuk perselisihan antara “sikap bermusuhan” atau kelompok penentang ide-ide.
(Gillies, 1994)
            Dahulu konflik dianggap sebagai sesuatu yang “berbau”  negative sehingga cara mengelolanyapun bermula dan yang sederhana, seperti dan membiarkan saja sampai yang bersifat ekstrem, yaitu berusaha menghilangkan sampai ke “akar-akarnya” (Gillies, 1994). Namun saat ini, konflik dikenal sebagai suatu fenomena alami yang memperkuat organisasi dengan mendamaikan pendapat yang berbeda dan berusaha menyelesaikannya secara damai. Jadi, konflikm justru dapat digunakan sebagai alat pemersatu kelompok bukan sebagai pemecah belah kelompok yang telah terbangun dengan baik.
            Konflik adalah sebuah kemutlakan atau keharusan sehingga seorang pemimpin harus belajar secara efektif dalam memfasilitasi penyelesaian konflik yang terjadi diantara anggotanya.  Hal ini dilakukan demi tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan bersama, bukan membiarkannya atau kebalikan menghindarinya.
(Agus Kuntoro, 2010)
B. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami pengertian konflik
2. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami penyebab konflik
3. Mahasiswa mampu mengerti dan memahami kategori konflik
4. Mahasiswa mampu memahami proses konflik
5. Mahasiswa mampu mengaplikasikan strategi dalam penyelesaian konflik



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Konflik
Deutsch (1969) dalam La Monica (1986), mendefinisikan konflik sebagai suatu perselisihan atau perjuangan yang timbul akibat terjadinya ancaman keseimbangan antara perasaan, pikiran, hasrat, dan prilaku seseorang. Douglass dan Bevis (1979) mengartikan konflik sebagai suatu bentuk perjuangan di antara kekuatan interdependen. Perjuangan tersebut dapat terjadi baik di dalam individu (interpersonal conflict) ataupun di dalam kelompok (intergroup conflict) (La Monica, 1986).
Dan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa konflik terjadi akibat adanya pertentangan pada situasi keseimbangan yang terjadi pada diri individu ataupun pada tatanan yang lebih luas, seperti antar-individu, antar-kelompok atau bahkan antar-masyarakat.
(Agus Kuntoro, 2010)
B. Penyebab Konflik
Banyak faktor yang bertanggungjawab terhadap terjadinya konflik terutama dalam suatu organisasi. Faktor-faktor tersebut dapat berupa prilaku yang menentang, stres, kondisi ruangan, kewenangan dokter-perawat, keyakinan, eksklusifisme, kekaburan tugas, kekurangan sumber daya, proses perubahan, imbalan, dan masalah komunikasi.
Prilaku menentang, sebagai bentuk dari ancaman terhadap suatu dialog rasional, dapat menimbulkan gangguan protokol penerimaan untuk interaksi dengan orang lain. Prilaku ini dapat berupa verbal dan nonverbal. Terdapat tiga macam prilaku menentang, yaitu competitive bomber yang dicirikan dengan prilaku mudah menolak, menggerutu dan menggumam, mudah untuk tidak masuk kerja, dan merusak secara agresif yang disengaja. Tipe prilaku menentang yang kedua adalah martyred accommodation, yang ditunjukkan dengan penggunaan kepatuhan semu atau palsu dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain, namun sambil melakukan ejekan atau hinaan. Tipe prilaku menentang yang ketiga adalah avoider, yang ditunjukkan dengan penghindaran kesepakatan yang telah dibuat dan menolak untuk berpartisipasi.
Stres juga dapat mengakibatkan terjadinya konflik dalam suatu organisasi. Contoh stresor, antara lain terlalu banyak atau terlalu sedikit beban yang menjadi tanggung jawab seseorang jika dibandingkan dengan orang lain yang ada dalam organisasi, misalnya di bangsal keperawatan.
Kondisi ruangan yang terlalu sempit atau tidak kondusif untuk melakukan kegiatan-kegiatan rutin dapat memicu terjadinya konflik. Hal yang memperburuk keadaan dalam ruangan dapat berupa hubungan yang monoton atau konstan di antara individu yang terlibat di dalamnya, terlalu banyaknya pengunjung pasien dalam suatu ruangan atau bangsal dan lain-lain.
Kewenangan dokter-perawat yang berlebihan dan tidak saling mengendalikan usulan-usulan di antara mereka, juga dapat mengakibatkan munculnya konflik. Dokter yang tidak mau menerima umpan balik dan perawat, atau perawat yang merasa tidak  acuh dengan saran-saran dan dokter untuk kesembuhan klien yang dirawatnya, dapat memperkeruh suasana. Kondisi ini akan semakin “runyam” jika diantara pihak yang terlibat dalam pengelolaan klien merasa direndahkan harga dirinya akibat sesuatu hal.
Penyebab lain terjadi konflik dapat diakibatkan oleh adanya perbedaan nilai atau keyakinan antara satu orang dengan orang lain. Perawat begitu percaya dengan persepsinya tentang pendapat kliennya sehingga menjadi tidak yakin dengan pendapat yang diusulkan oleh profesi atau tim kesehatan lain. Keadaan ini akan semakin menjadi komplek jika perbedaan, nilai, dan persepsi telah melibatkan pihak diluar tim kesehatan yaitu keluarga pasien. Jika ini telah terjadi, konflik yang munculpun semakin tidak sederhana karena telah mengikutsertakan banyak variabel didalamnya.
Adanya pemikiran bahwa kelompok tertentu memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan kelompok lain (ekslusifisme). Hal ini tak jarang menyebabkan konflik antar kelompok dalam ssuatu tatanan organisasi.
Peran ganda yang disandang seseorang (perawat) dalam bangsal keperawatan sering kali mengakibatkan konflik. Seorang perawat yang berperan lebih dari satu peran pada waktu yang hampir bersamaan, masih merupakan fenomena yang jamak ditemukan dalam tatanan pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun di komunitas.
Kekurangan sumber daya insani dalaam tatanan organisasi dapat dianggap sumber absolute terjadinya konflik. Sedikitnya sumber daya insani atau manusia, sering memicu terjadinya persaingan yang tidak sehat dalam suatu tatanan organisasi.
Perubahan dianggap sebagai  proses alamiah. Tetapi kadang perubahan justru akan mengakibatkan berbagai macam konflik. Perubahan yang dilakukan terlalu tergesa-gesa atau cepat, atau perubahan yang dilakukan terlalu lambat, dapat memunculkan konflik.
Beberapa ahli berpendapat bahwa imbalan kadang tidak cukup berpengaruh dengan motivasi seseorang. Namun, jika imbalan dikaitkan dengan pembagian yang tidak merata antara satu orang dan orang lain sering menyebabkan munculnya konflik.
Factor terakhir yang ikut andil dalam memunculkan suatu konflik adalah komunikasi. Penyampaian informasi yang tidak seimbang, hanya orang-orang tertentu yang diajak berbicara oleh manager, penggunaan bahasa yang tidak efektif, dan juga penggunaan media yang tidak tepat sering kali berujung dengan terjadinya konflik di tatanan organisasi yang bersangkutan.
(Agus Kuntoro 2010)
C.Kategori Konflik
Dalam menyelesaikan dan mengelola konflik, Project Manager harus memahami kategori konflik. Adapun kategori konflik adalah:
1.      Konflik orientasi tujuan: berhubungan dengan hasil akhir, performa spesifikasi dan kriteria, prioritas, dan obyektif.
2.      Konflik administratif: berhubungan dengan struktur management, filosofi dan teknik, dan terutama pendefinisian tanggung jawab dan otoritas tugas, fungsi dan keputusan.
3.      Interpersonal Konflik: merupakan hasil dari perbedaan dalam etika bekerja, cara bekerja, egoisme, dan kepribadian dari tiap orang yang terlibat.
(Thamhain 1975)
D.Proses Konflik
            La Monica (1986) mengutip pendapatnya Filley (1980) membagi proses konflik dalam enam tahapan yaitu kondisi yang mendahului, konflik yang dipersepsi, konflik yang dirasakan, perilaku yang dinyatakan, penyelesaian atau penekanan konflik, dan penyelesaian akibat konflik.
            Kondisi yang mendahului merupakan penyebab terjadinya konflik seperti konflik yang sudah didiskusikan sebelumnya. Setelah terjadi suatu konflik, konflik yang ada di persepsi atau berusaha diketahui. Kondisi yang ada diantara pihak yang terlibat atau didalam diri dapat menyebabkan terjadinya konflik. Konflik yang dipersepsi ini pada umumnya bersifat logis, tidak personal, dan sangat  objektif.
            Disisi lain konflik akan dirasakan secara subjektif karena individu merasa ada konflik relasi. Perasaan semacam ini sering diasumsikan sebagai sesuatu yang dapat mengancam integritas diri, memunculkan permusuhan, perasaan takut, dan balikan timbulnya perasaan tidak berdaya (hopeles). Akibat dari kondisi-kondisi tersebut, beberapa individu kemudian melakukan bentuk perilaku nyata atau actual seperti perilaku agresi, pasif, aseptif, persaingan, debat, atau adabeberapa individu yang mencoba memecahkan masalah atau konflik.
            Langkah selanjutnya yang dilakukan terhadap terjadinya konflik adalah perilaku untuk menyelesaikan atau menekan konflik tersebut. Perilaku tersebut dapat berupa perjanjian diantara yang terlibat.
            Tahap terakhir dari proses konflik adalah upaya penyelesaian akibat dari konflik. Beberapa kejadian konflik sering meninggalkan “residu” pada pihak yang terlibat. Oleh karena  itu, upaya untuk menyelesaikan sisa atau akibat konflik tersebut sudahi selayaknya dilakukan oleh pihak yang terlibat. Jika hal ini tidak dilakukan, dapat memunculkan konflik baru pada tempat dan waktu yang berbeda.
E. Strategi Penyelesaian Konflik
            Beberapa strategi dapat dipakai untuk  menyelesaikan terjadinya konflik. Strategi –strategi tersebut adalah menghindar, akomodasi, kompetisi, kompromi dan kerja sama.
Cara menghindar memungkinkan kedua kelompok atau pihak yang terlibat konflik menjadi dingin dan berusaha mengumpulkan informasi. Dengan demikian, pihak yang terlibat konflik diberi kesempatan untuk merenungkan dan memikirkan alternatife penyelesaiannya.
Strategi akomodasi digunakan untuk memfasilitasi dan memberikan wadah untuk menampung keinginan pihak yang terlibat konflik sehingga terjadi peningkatan kerja sama dan pengumpulan data-data yang akurat dan signifikan untuk pengambilan suatu kesepakatan bersama.
Cara kompetisi, dengan menunjukkan kekuasaan yang terkait dengan posisinya untuk menyelsaikan konflik terutama yang terkait dengan tugas dan tanggung jawab stafnya.
Strategi kompromi dilakukan dengan cara mengambil jalan tengah dengan pihak yang terlibat konflik.
Cara kerja sama, cara ini dilakukan dengan melibatkan pihak yang terlibat konflik untuk melakukan kerja sama dalam rangka penyelesaian konflik. Cara ini biasanya menimbulkan perasaan puas dikedua belah pihak yang terlibat konflik.
(Agus Kuntoro, 2010)
F. Peran Pimpinan Dalam Penyelesaian Konflik
Seorang manajer (kepala ruang) harus segera mengambil inisiatif untuk mefasilitasi penyelesaian konflik yang positif. Manajer dapat saja “mengabaikan” konflik yang terjadi atau harus ikut campur tangan dalam penyelesaiannya. Jika persoalan yang mendasari konflik sangat kecil, dalam arti hanya melibatkan dua orang (perawat, perawat dengan profesi lain) dan tidak mempengaruhi proses asuhan keperawatan secara bermakna, seorang manajer tidak harus ikut campur untuk penyelesaian konflik. Meskipun demikian, manajer dapat memberikan izin agar pihak yang terlibat membuat perjanjian mengenai persoalan yang sedang dihadapi dan cara apa yang sekiranya dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik. Sebaliknya, bila konflik yang terjadi sangat mempengaruhi pemberian asuhan keperawatan pada klien, seorang manajer dapat segera mengambil inisiatif untuk ikut secara aktif  menyelesaikan konflik yang sedang terjadi dengan pertimbangan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat menimpa klien.
Beberapa strategi dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik, seperti penggunaan disiplin, pertimbangan tahap kehidupan, komunikasi, lingkaran kualitas dan latihan keasertifan.
1. Penggunaan disiplin
Dalam menggunakan disiplin untuk mengelola atau mencegah terjadinya konflik, seorang manager perawat harus mengetahui dan memahami peraturan dan ketetapan organisasi yang berlaku. Berbagai aturan dapat digunakan untuk mengelola konflik,  antara lain penggunaan disiplin yang progresif, pemberian hukuman yang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan anggota, penawaran bantuan untuk menyelesaikan masalah pekerjaan, penentuan, pendekatan terbaik untuk setiap personil, pendekatan individual, tegas dalam pemberian keputusan, penciptaan rasa hormat, dan rasa percaya diri diantara anggota untuk mengatasi masalah kedisiplinan.
2. Pertimbangan tahap kehidupan
Konflik juga dapat diselesaikan melalui pemberian dukungan pada anggota untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam tahap perkembangan kehidupannya. Ada tiga tahap perkembangan yaitu tahap dewasa muda, setengah baya,  dan setelah umur 55 tahun. Masing-masing tahap perkembangan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.
3. Komunikasi
Komunikasi yang merupakan bagian mendasar manusia dapat dimanfaatkan dalam penyelesaian konflik. Komunikasi merupakan suatu seni yang penting digunakan untuk memelihara suatu lingkungan kondusif-terapeutik.
4. Lingkaran kualitas 
Cara lain yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya konflik adalah lingkaran kualitas. Cara ini telah digunakan untuk mengurangi terjadinya stress melalui kegiatan peningkatan motivasi personil. Lingkaran kualitas ini dapat digunakan melalui manajemen partisipasi, keanggotaan dalam panitia, program pengembangan kepemimpinan, latihan-latihan kelas, penjejangan karir, perluasan kerja dan rotasi kerja.
5. Latihan keasertifan
Seorang manager dapat juga melatih stafnya dalam hal keasertifan untuk mencegah atau mengelola konflik. Sifat asertif dapat diajarkan memalui program pengembangan staf. Pada program ini perawat diajarkan cara belajar melalui respon yang baik. Manager dapat belajar mengendalikan personil supaya mampu memegang aturan.
            (Agus Kuntoro, 2010)


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konflik terjadi akibat adanya pertentangan pada situasi keseimbangan yang terjadi pada diri individu atau pada tatanan yang lebih luas, seperti antar-individu, antar-kelompok atau bahkan antar-masyarakat. Banyak factor yang bertanggung jawab terhadap terjadinya konflik terutama dalam organisasi. Factor-faktor tersebut dapat berupa perilaku yang menentang, stress, kondisi ruangann, kewenangan dokter perawat, keyakinan, eksklusifisme, kekaburan tugas, kekurangan sumber daya, proses perubahan, imbalan dan masalah komunikasi. Seorang manajer (kepala ruang) harus segera mengambil inisiatif untuk mefasilitasi penyelesaian konflik yang positif. Manajer dapat saja “mengabaikan” konflik yang terjadi atau harus ikut campur tangan dalam penyelesaiannya.
(Agus Kuntoro, 2010)
B. Saran
Untuk menyelesaikan suatu konflik seharusnya diperlukan  usaha-usaha yang bersifat konstruktif untuk menghasilkan pertumbuhan positif  individu atau kelompok, peningkatan kesadaran, pemahaman diri dan orang lain, dan perasaan positif terhadap hubungan dengan orang lain.


DAFTAR PUSTAKA
  1. Agus Kontoro.2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan.Yogyakarta:Nuha Medika.
  2. Suarli dkk.2002.Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis.Jakarta:Erlangga.
3.      dunia-askep.blogspot.com/konsep-manajemen-keperawatan.html)
4.      McLeold, Raymond, DKK.2009.sistem informasi manajemen.Jakarta:Salemba Empat
5.      Yukl, Gary A.1998.Leader Ship in Organzations.Jakarta:Prenhallindo
6.      Dessler, Gary.1998.Human Resource Management.Jakarta:Prenhallindo


15 komentar:

  1. siti marchamatun sk 109.172

    ingin bertanya
    Bagaimana seorang leader menangani anggotanya yang sedang berkonflik dengan anggota yang lainnya yaitu perawat yang mendekati pasien dan keluarganya untuk mendapatkan simpati dari keluarga pasien serta mendapat keuntungan(tips)dari keluarga pasien sehingga membuat perawat yang lainnya membuat cemburu, bagaimana solusinya agar konflik tidak terjadi lagi dan apa sangsinya bagi yang melakukan hal seperti itu?
    Terima kasih. . .

    BalasHapus
  2. Tri wulan (sk.109.195),, ingin menanggapi pertanyaan dar siti marchamatun.

    menurut pendapat saya, memang sudah kewajiban sebagai seorang perawat melayani pasien dengan ramah / dengan menggunakan komunikasi terapeutik.

    kita sebagai seorang leader/pemimpin :
    mempertemukan anggota yang sedang berkonflik,
    dengan menceritakan masalah yang sebernarnya yang sedang terjadi,jika sudah saling menceritakan, kita mempersatukan kepada anggota dengan cara penyelesaian konflik secara musyawarah..
    sebenarnya karakteristik dari masing-masing individu/anggota tersebut berbeda, ada yang ramah kepada pasien dan ada yang cuek/acuh.

    begitu mb marcamatun itu menurut pendapat saya ,
    bagaimana teman2 dari kelompok 2 apa ada yang ingin menambahkan?? kita diskusi bersama
    :)
    trimsss

    BalasHapus
  3. asslamu'alaikum....
    siti mutmainah (sk.109174)

    mau tanya?....
    bagaiman seorang pemimpin yang baik dalam menyikapi koflik yg ada dalam sebuah organisasi jelaskan!!!!.......

    trima kasih.....

    BalasHapus
  4. Silvian Hendra (SK 109.169)

    saya akan menanggapi pertanyaan mbak mutmainah :

    dilihat dulu konflik seperti apa yang sedang ada apakah membahayakan organisasi, kelomok atau klien(pasien), dan sebagai pemimpin menyikapi konflik dengan pikiran tenang, kemudian akan mencari informasi tentang masalah/isu yang ada kemudian akan menganalisa dan mencari jalan keluar untuk permasalah itu.

    jadi pemimpin akan mengferivikasi pada kedua belah piha yang berkonflik, dan akan menjadi fasilitator dalam mengubungkan kedua belah pihak yang berkonflik.serta membantu membuat surat pernyataan tidak akan mengulaing kejadian itu antara kedu belah pihak.

    BalasHapus
  5. Wirda Ro'ikhatut Tamamah
    sk.109.208

    saya Akan menambahi jawaban Mb Tri Wulan dari pertanyaan Mb Marchamatun,,,langkah pertama jelas kita sebagai leader mempertemukan kedua belah pihak untuk saling mengungkapkan perasaannya sehingga masalah jelas. kalau menurut saya pribadi,mengambil simpati dari klien itu sah- sah saja mb, selagi itu klien tidak merasa dirugikan. setiap perawat pelaksana masing - masing punya kewajiban mengelola kleinnya, terserah perawat itu mau mengapakan klien asal itu sesuai dengan prosedur dan tidak merugikan orang lain.Dan untuk perawat yang cemburu ini,kita beri nasihat, masukan kalau memang dia tidak suka dengan cara kerja patnernya ya disuruh bicara dengan baik - baik,tanya baik-baik, nantinya kan perawat yang bersangkutan itu bisa menjelaskan alasannya seperti itu kenapa, jadi semuanya bisa jelas dan tidak menimbulkan konflik.

    masalah sangsi, bisa kita lihat dulu, ini akan berpengaruh pada proses asuhan keperawatan atau tidak, selagi tidak mengganggu saya rasa tidak perlu diberi sangsi, cukup kita fasilitasi untuk menyelesesaikan secara baik-baik, dan berjanji bahwasanya tidak akan terjadi lagi masalah seperti ini.

    BalasHapus
  6. saya wiwi susanti (109.209)
    assalamulaikum...
    saya mau bertanya,,,
    konflik ini bisanya sering terjadi dimanpun tempatnya,lah,,menurut kelompok anda bagaimana cara kita menghindari terjadinya konflik???
    trimakasih....

    BalasHapus
  7. SRI MUJIYANTI(SK.109.181)
    Mau tanya nich,,,

    dari strategi penyelesain konflik menurut anda strategi mana yang paling tepat untuk menyelesaikan konflik???
    makasihh

    BalasHapus
  8. silvian hendra (sk.109.169)

    saya akan menanggapi pertanyaan dari mba wiwik susanti, cara menghindari konflik yang negatif adalah dengan cara :
    1. berkomunikasi yang efektif dan benar (biasanya konflik terjadi karna miskomunikasi)
    2. disiplin (waktu, pekerjaan dan llain)
    3. saling oleransi terhadap anggota tim
    4. berperasangka baik/berpikiran positif
    5. kerja sesuai dengan SOP

    BalasHapus
  9. silvian hendra (sk.109.1690
    Menanggapi pertanyaan mbak sri mujiati :

    semua strategi bisa di gunakan tapi lihat situasi atau kondisinya, sejauh manakah konflik / Isu yang berkembang tersebut mempengaruhi Organisasi / tujuan Organisai tersebut,Pemimpin/Menejer bisa menggunakan Strategi menghindar, akomodasi, kompetisi, kompromi dan kerja sama.

    BalasHapus
  10. yohan irianda sk 109 211

    bagai mana kalau konflik itu terjadi karena kesalahan kita sebagai seorang leadersip bagai mana kita membuat keadaan ini menjadi normal kembali???//

    BalasHapus
  11. Tri wulan (sk.109.195),,
    ingin menanggapi pertanyaan dari mz yohan irianda trimakasih atas pertanyaanya..

    setiap organisasi dimana manusia berinteraksi pasti mempunyai terjadinya sebuah konflik,, begitu juga kesalah leader/pemimpin..

    langkah yang harus kita lakukan yaitu,,
    1.menggunakan komunikasi yang baik(efektif), tentunya dengan komunikasi yang efektif,karena dengan menggunakan komunikasi yang efektif itu akan membuat masalah menjadi berkurang.
    2. menyimpulkan suatu solusi ,, yaitu dengan cara mengumpulkan masukan-masukan yang positif, mengenai jalan keluar dari masalah tersebut.
    3. mengevaluasi dari konflik itu sendiri, baik dari anggota maupun pemimpin itu setelah berdiskusi dapat menyelesaikan konflik tersebut.
    begitu mz yohan,, bagaimana???

    BalasHapus
  12. Sri Bidayati
    SK.109.180

    Saya mau bertanya pada kelompok anda
    Faktor - faktor apa saja yang dapat mencegah terjadinya konflik???

    BalasHapus
  13. siti chaeriyah.sk 109.170
    saya akan menjawab pertanyaan dr sri bidayati tentang ;
    faktor yang dapat mencegah konflik itu meliputi:
    1. disiplin yaitu mempertahankan disiplin. dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik misalnya manajer perawat harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi.
    2. pertimbangan pengalaman dalam tahapan kehidupan yaitu: konflik dapat dikelola dengan mendukung perawat untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya.misalnya: perawat junior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk menduduki jabatan yang tinggi.
    3. komunikasi yaitu: suatu komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapiutik dan kondusif. suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk menghindari konflik.
    4. mendengarkan secara efektif yaitu: hal paling penting dalam mengatasi konflik misalnya untuk memastikan bahwa penerimaan para manajer perawat telah memiliki pemahaman yang benar.



    itu mb atik jawabannya menurut saya.....

    BalasHapus
  14. suswanti kelompok 5
    mau ikut tanya ea,,

    kalau menurut anda mana sih yang akan diprioritaskan antara konflik pribadi dan konflik dengan orang lain,mana dulu yang akan anda selesaikan,..????????

    BalasHapus
  15. Tri wulan (sk.109.195),,
    ingin menanggapi pertanyaan dari mbak sus,
    menurut saya,,
    kita lihat terlebih dahulu konflik yang lebih penting itu yang mana,yang harus ditangani terlebih dahulu yang mana konflik pribadi/orang lain.
    karena yang namanya organisasi dimanapun pasti terjadi konflik baik konflik itu mudah untuk di tangani/berat(sulit) untuk ditangani.
    maka dari itu kita lihat dulu dari konflik tersebut yang harus diselesaikan terlebih dahulu yang mana??

    begitu mbak sus menurut saya,,,
    bagaimana mbak suswanti??

    BalasHapus