MANAJEMEN KONFLIK
MAKALAH
KONSEP DASAR MANAJEMEN KONFLIK
DI SUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MODUL
MANAJEMEN KEPERAWATAN
Dosen pengampu :Andriyani
Mustika,
S.kep.Ns

Di susun oleh:
Kelompok
2
1.
SILVIAN HENDRA FENDIANTOKO (SK.109.169)
2.
SITI CHAERIYAH (SK.109.170)
3.
SRI NURHAYATI (SK.109.182)
4.
SUCI DEWI RAHAYU (SK.109.183)
5.
TRI WULAN (SK.109.195)
6.
TRI YULIONO (SK.109.196)
7.
WIRDA RO’IKHATUT TAMAMAH (SK.109.208)
8.
YUWIENDA TYAR ASMARANI (SK.109.215)
9.
ZULFA ISTATI MAHARDANI (SK.109.221)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KENDAL
2011
KATA PENGANTAR
Dengan
mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya yang
dilimpahkan kepada kami sehingga kami dapat melaksanakan tugas membuat makalah
ini walaupun sangat sederhana.
Tujuan
membuat makalah ini guna melengkapi salah satu tugas mata kuliah Modul Manajemen Keperawatan.
Disamping itu juga menambah pengetahuan tentang manajemen konflik.
Dalam
kesempatan ini pula kami mengucapkan terima kasih kepada :
- Tuhan YME.
- Ibu Andriyani Mustika, S.Kep.,Ns. dan Tim selaku koordinator dosen pengampu mata kuliah Manajemen Keperawatan.
- Serta teman-teman yang telah membantu dalam menyusun makalah ini.
Kami percaya bahwa dalam menyusun makalah ini masih
banyak kekurangan dan kekeliruan. Maka dari itu kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca
semua.
Kendal, 20 Desember
2011
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Organisasi
merupakan tempat manusia berinteraksi yang mempunyai kemungkinan terjadinya
suatu konflik. Konflik ini bisa berhubungan dengan perasaan termasuk perasaan
diabaikan, tidak dihargai, atau beban berlebihan, dan perasaan individu yang
menimbulkan suatu titik kemarahan. Konflik dapat diartikan sebagai suatu bentuk
perselisihan antara “sikap bermusuhan” atau kelompok penentang ide-ide.
(Gillies, 1994)
Dahulu konflik dianggap sebagai
sesuatu yang “berbau” negative sehingga
cara mengelolanyapun bermula dan yang sederhana, seperti dan membiarkan saja
sampai yang bersifat ekstrem, yaitu berusaha menghilangkan sampai ke
“akar-akarnya” (Gillies, 1994). Namun
saat ini, konflik dikenal sebagai suatu fenomena alami yang memperkuat
organisasi dengan mendamaikan pendapat yang berbeda dan berusaha
menyelesaikannya secara damai. Jadi, konflikm justru dapat digunakan sebagai
alat pemersatu kelompok bukan sebagai pemecah belah kelompok yang telah
terbangun dengan baik.
Konflik adalah sebuah kemutlakan
atau keharusan sehingga seorang pemimpin harus belajar secara efektif dalam
memfasilitasi penyelesaian konflik yang terjadi diantara anggotanya. Hal ini dilakukan demi tercapainya tujuan
organisasi yang telah ditetapkan bersama, bukan membiarkannya atau kebalikan
menghindarinya.
(Agus Kuntoro, 2010)
B. Tujuan Penulisan
1.
Mahasiswa mampu mengerti dan memahami pengertian konflik
2.
Mahasiswa mampu mengerti dan memahami penyebab konflik
3.
Mahasiswa mampu mengerti dan memahami kategori konflik
4.
Mahasiswa mampu memahami proses konflik
5.
Mahasiswa mampu mengaplikasikan strategi dalam penyelesaian konflik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Konflik
Deutsch (1969)
dalam La Monica (1986),
mendefinisikan konflik sebagai suatu perselisihan atau perjuangan yang timbul
akibat terjadinya ancaman keseimbangan antara perasaan, pikiran, hasrat, dan
prilaku seseorang. Douglass dan Bevis
(1979) mengartikan konflik sebagai suatu bentuk perjuangan di antara
kekuatan interdependen. Perjuangan tersebut dapat terjadi baik di dalam
individu (interpersonal conflict) ataupun di dalam kelompok (intergroup
conflict) (La Monica, 1986).
Dan
definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa konflik terjadi akibat adanya
pertentangan pada situasi keseimbangan yang terjadi pada diri individu ataupun
pada tatanan yang lebih luas, seperti antar-individu, antar-kelompok atau
bahkan antar-masyarakat.
(Agus Kuntoro, 2010)
B. Penyebab Konflik
Banyak
faktor yang bertanggungjawab terhadap terjadinya konflik terutama dalam suatu
organisasi. Faktor-faktor tersebut dapat berupa prilaku yang menentang, stres, kondisi ruangan, kewenangan
dokter-perawat, keyakinan, eksklusifisme, kekaburan tugas, kekurangan sumber
daya, proses perubahan, imbalan, dan masalah komunikasi.
Prilaku
menentang, sebagai bentuk dari ancaman terhadap suatu dialog rasional, dapat
menimbulkan gangguan protokol penerimaan untuk interaksi dengan orang lain.
Prilaku ini dapat berupa verbal dan nonverbal. Terdapat tiga macam prilaku
menentang, yaitu competitive bomber yang dicirikan dengan prilaku mudah
menolak, menggerutu dan menggumam, mudah untuk tidak masuk kerja, dan merusak
secara agresif yang disengaja. Tipe prilaku menentang yang kedua adalah
martyred accommodation, yang ditunjukkan dengan penggunaan kepatuhan semu atau
palsu dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain, namun sambil melakukan
ejekan atau hinaan. Tipe prilaku menentang yang ketiga adalah avoider, yang ditunjukkan
dengan penghindaran kesepakatan yang telah dibuat dan menolak untuk
berpartisipasi.
Stres
juga dapat mengakibatkan terjadinya konflik dalam suatu organisasi. Contoh
stresor, antara lain terlalu banyak atau terlalu sedikit beban yang menjadi
tanggung jawab seseorang jika dibandingkan dengan orang lain yang ada dalam
organisasi, misalnya di bangsal keperawatan.
Kondisi
ruangan yang terlalu sempit atau tidak kondusif untuk melakukan
kegiatan-kegiatan rutin dapat memicu terjadinya konflik. Hal yang memperburuk
keadaan dalam ruangan dapat berupa hubungan yang monoton atau konstan di antara
individu yang terlibat di dalamnya, terlalu banyaknya pengunjung pasien dalam
suatu ruangan atau bangsal dan lain-lain.
Kewenangan
dokter-perawat yang berlebihan dan tidak saling mengendalikan usulan-usulan di
antara mereka, juga dapat mengakibatkan munculnya konflik. Dokter yang tidak
mau menerima umpan balik dan perawat, atau perawat yang merasa tidak acuh dengan saran-saran dan dokter untuk
kesembuhan klien yang dirawatnya, dapat memperkeruh suasana. Kondisi ini akan
semakin “runyam” jika diantara pihak yang terlibat dalam pengelolaan klien
merasa direndahkan harga dirinya akibat sesuatu hal.
Penyebab
lain terjadi konflik dapat diakibatkan oleh adanya perbedaan nilai atau
keyakinan antara satu orang dengan orang lain. Perawat begitu percaya dengan
persepsinya tentang pendapat kliennya sehingga menjadi tidak yakin dengan
pendapat yang diusulkan oleh profesi atau tim kesehatan lain. Keadaan ini akan
semakin menjadi komplek jika perbedaan, nilai, dan persepsi telah melibatkan
pihak diluar tim kesehatan yaitu keluarga pasien. Jika ini telah terjadi,
konflik yang munculpun semakin tidak sederhana karena telah mengikutsertakan
banyak variabel didalamnya.
Adanya
pemikiran bahwa kelompok tertentu memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan
dengan kelompok lain (ekslusifisme). Hal ini tak jarang menyebabkan konflik
antar kelompok dalam ssuatu tatanan organisasi.
Peran
ganda yang disandang seseorang (perawat) dalam bangsal keperawatan sering kali
mengakibatkan konflik. Seorang perawat yang berperan lebih dari satu peran pada
waktu yang hampir bersamaan, masih merupakan fenomena yang jamak ditemukan
dalam tatanan pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun di komunitas.
Kekurangan
sumber daya insani dalaam tatanan organisasi dapat dianggap sumber absolute
terjadinya konflik. Sedikitnya sumber daya insani atau manusia, sering memicu
terjadinya persaingan yang tidak sehat dalam suatu tatanan organisasi.
Perubahan
dianggap sebagai proses alamiah. Tetapi
kadang perubahan justru akan mengakibatkan berbagai macam konflik. Perubahan
yang dilakukan terlalu tergesa-gesa atau cepat, atau perubahan yang dilakukan
terlalu lambat, dapat memunculkan konflik.
Beberapa
ahli berpendapat bahwa imbalan kadang tidak cukup berpengaruh dengan motivasi
seseorang. Namun, jika imbalan dikaitkan dengan pembagian yang tidak merata
antara satu orang dan orang lain sering menyebabkan munculnya konflik.
Factor
terakhir yang ikut andil dalam memunculkan suatu konflik adalah komunikasi.
Penyampaian informasi yang tidak seimbang, hanya orang-orang tertentu yang
diajak berbicara oleh manager, penggunaan bahasa yang tidak efektif, dan juga
penggunaan media yang tidak tepat sering kali berujung dengan terjadinya
konflik di tatanan organisasi yang bersangkutan.
(Agus Kuntoro 2010)
C.Kategori Konflik
Dalam
menyelesaikan dan mengelola konflik, Project Manager harus memahami kategori
konflik. Adapun kategori konflik adalah:
1.
Konflik orientasi tujuan: berhubungan dengan hasil
akhir, performa spesifikasi dan kriteria, prioritas, dan obyektif.
2.
Konflik administratif: berhubungan dengan struktur
management, filosofi dan teknik, dan terutama pendefinisian tanggung jawab dan
otoritas tugas, fungsi dan keputusan.
3.
Interpersonal Konflik: merupakan hasil dari perbedaan
dalam etika bekerja, cara bekerja, egoisme, dan kepribadian dari tiap orang
yang terlibat.
(Thamhain 1975)
D.Proses Konflik
La
Monica (1986) mengutip pendapatnya Filley
(1980) membagi proses konflik dalam enam tahapan yaitu kondisi yang
mendahului, konflik yang dipersepsi, konflik yang dirasakan, perilaku yang
dinyatakan, penyelesaian atau penekanan konflik, dan penyelesaian akibat
konflik.
Kondisi yang mendahului merupakan
penyebab terjadinya konflik seperti konflik yang sudah didiskusikan sebelumnya.
Setelah terjadi suatu konflik, konflik yang ada di persepsi atau berusaha
diketahui. Kondisi yang ada diantara pihak yang terlibat atau didalam diri
dapat menyebabkan terjadinya konflik. Konflik yang dipersepsi ini pada umumnya
bersifat logis, tidak personal, dan sangat
objektif.
Disisi lain konflik akan dirasakan
secara subjektif karena individu merasa ada konflik relasi. Perasaan semacam
ini sering diasumsikan sebagai sesuatu yang dapat mengancam integritas diri,
memunculkan permusuhan, perasaan takut, dan balikan timbulnya perasaan tidak
berdaya (hopeles). Akibat dari kondisi-kondisi tersebut, beberapa individu
kemudian melakukan bentuk perilaku nyata atau actual seperti perilaku agresi,
pasif, aseptif, persaingan, debat, atau adabeberapa individu yang mencoba
memecahkan masalah atau konflik.
Langkah selanjutnya yang dilakukan
terhadap terjadinya konflik adalah perilaku untuk menyelesaikan atau menekan
konflik tersebut. Perilaku tersebut dapat berupa perjanjian diantara yang
terlibat.
Tahap terakhir dari proses konflik
adalah upaya penyelesaian akibat dari konflik. Beberapa kejadian konflik sering
meninggalkan “residu” pada pihak yang terlibat. Oleh karena itu, upaya untuk menyelesaikan sisa atau
akibat konflik tersebut sudahi selayaknya dilakukan oleh pihak yang terlibat.
Jika hal ini tidak dilakukan, dapat memunculkan konflik baru pada tempat dan
waktu yang berbeda.
E. Strategi
Penyelesaian Konflik
Beberapa strategi
dapat dipakai untuk menyelesaikan
terjadinya konflik. Strategi –strategi tersebut adalah menghindar, akomodasi,
kompetisi, kompromi dan kerja sama.
Cara menghindar memungkinkan kedua kelompok atau pihak yang
terlibat konflik menjadi dingin dan berusaha mengumpulkan informasi. Dengan
demikian, pihak yang terlibat konflik diberi kesempatan untuk merenungkan dan
memikirkan alternatife penyelesaiannya.
Strategi akomodasi digunakan untuk memfasilitasi dan memberikan
wadah untuk menampung keinginan pihak yang terlibat konflik sehingga terjadi
peningkatan kerja sama dan pengumpulan data-data yang akurat dan signifikan
untuk pengambilan suatu kesepakatan bersama.
Cara kompetisi, dengan menunjukkan kekuasaan yang terkait dengan
posisinya untuk menyelsaikan konflik terutama yang terkait dengan tugas dan
tanggung jawab stafnya.
Strategi kompromi dilakukan dengan cara mengambil jalan tengah
dengan pihak yang terlibat konflik.
Cara kerja sama, cara ini dilakukan dengan melibatkan pihak yang
terlibat konflik untuk melakukan kerja sama dalam rangka penyelesaian konflik.
Cara ini biasanya menimbulkan perasaan puas dikedua belah pihak yang terlibat
konflik.
(Agus Kuntoro, 2010)
F. Peran Pimpinan Dalam
Penyelesaian Konflik
Seorang
manajer (kepala ruang) harus segera mengambil inisiatif untuk mefasilitasi
penyelesaian konflik yang positif. Manajer dapat saja “mengabaikan” konflik
yang terjadi atau harus ikut campur tangan dalam penyelesaiannya. Jika
persoalan yang mendasari konflik sangat kecil, dalam arti hanya melibatkan dua
orang (perawat, perawat dengan profesi lain) dan tidak mempengaruhi proses
asuhan keperawatan secara bermakna, seorang manajer tidak harus ikut campur
untuk penyelesaian konflik. Meskipun demikian, manajer dapat memberikan izin
agar pihak yang terlibat membuat perjanjian mengenai persoalan yang sedang
dihadapi dan cara apa yang sekiranya dapat dilakukan untuk menyelesaikan
konflik. Sebaliknya, bila konflik yang terjadi sangat mempengaruhi pemberian
asuhan keperawatan pada klien, seorang manajer dapat segera mengambil inisiatif
untuk ikut secara aktif menyelesaikan
konflik yang sedang terjadi dengan pertimbangan untuk mencegah terjadinya
hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat menimpa klien.
Beberapa strategi dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik,
seperti penggunaan disiplin, pertimbangan tahap kehidupan, komunikasi,
lingkaran kualitas dan latihan keasertifan.
1. Penggunaan disiplin
Dalam menggunakan disiplin untuk mengelola atau mencegah
terjadinya konflik, seorang manager perawat harus mengetahui dan memahami peraturan
dan ketetapan organisasi yang berlaku. Berbagai aturan dapat digunakan untuk
mengelola konflik, antara lain
penggunaan disiplin yang progresif, pemberian hukuman yang sesuai dengan
pelanggaran yang dilakukan anggota, penawaran bantuan untuk menyelesaikan
masalah pekerjaan, penentuan, pendekatan terbaik untuk setiap personil,
pendekatan individual, tegas dalam pemberian keputusan, penciptaan rasa hormat,
dan rasa percaya diri diantara anggota untuk mengatasi masalah kedisiplinan.
2. Pertimbangan tahap kehidupan
Konflik juga dapat diselesaikan melalui pemberian dukungan pada
anggota untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam tahap perkembangan
kehidupannya. Ada tiga tahap perkembangan yaitu tahap dewasa muda, setengah
baya, dan setelah umur 55 tahun.
Masing-masing tahap perkembangan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.
3. Komunikasi
Komunikasi yang merupakan bagian mendasar manusia dapat
dimanfaatkan dalam penyelesaian konflik. Komunikasi merupakan suatu seni yang
penting digunakan untuk memelihara suatu lingkungan kondusif-terapeutik.
4. Lingkaran kualitas
Cara lain yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya konflik
adalah lingkaran kualitas. Cara ini telah digunakan untuk mengurangi terjadinya
stress melalui kegiatan peningkatan motivasi personil. Lingkaran kualitas ini
dapat digunakan melalui manajemen partisipasi, keanggotaan dalam panitia,
program pengembangan kepemimpinan, latihan-latihan kelas, penjejangan karir,
perluasan kerja dan rotasi kerja.
5. Latihan keasertifan
Seorang manager dapat juga melatih stafnya dalam hal keasertifan
untuk mencegah atau mengelola konflik. Sifat asertif dapat diajarkan memalui
program pengembangan staf. Pada program ini perawat diajarkan cara belajar
melalui respon yang baik. Manager dapat belajar mengendalikan personil supaya
mampu memegang aturan.
(Agus
Kuntoro, 2010)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konflik
terjadi akibat adanya pertentangan pada situasi keseimbangan yang terjadi pada
diri individu atau pada tatanan yang lebih luas, seperti antar-individu,
antar-kelompok atau bahkan antar-masyarakat. Banyak factor yang bertanggung
jawab terhadap terjadinya konflik terutama dalam organisasi. Factor-faktor
tersebut dapat berupa perilaku yang menentang, stress, kondisi ruangann,
kewenangan dokter perawat, keyakinan, eksklusifisme, kekaburan tugas,
kekurangan sumber daya, proses perubahan, imbalan dan masalah komunikasi.
Seorang manajer (kepala ruang) harus segera mengambil inisiatif untuk
mefasilitasi penyelesaian konflik yang positif. Manajer dapat saja
“mengabaikan” konflik yang terjadi atau harus ikut campur tangan dalam
penyelesaiannya.
(Agus Kuntoro, 2010)
B. Saran
Untuk
menyelesaikan suatu konflik seharusnya diperlukan usaha-usaha yang bersifat konstruktif untuk
menghasilkan pertumbuhan positif
individu atau kelompok, peningkatan kesadaran, pemahaman diri dan orang
lain, dan perasaan positif terhadap hubungan dengan orang lain.
DAFTAR
PUSTAKA
- Agus Kontoro.2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan.Yogyakarta:Nuha Medika.
- Suarli dkk.2002.Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis.Jakarta:Erlangga.
3. dunia-askep.blogspot.com/konsep-manajemen-keperawatan.html)
4. McLeold,
Raymond, DKK.2009.sistem informasi
manajemen.Jakarta:Salemba Empat
5. Yukl,
Gary A.1998.Leader Ship in Organzations.Jakarta:Prenhallindo
6. Dessler,
Gary.1998.Human Resource Management.Jakarta:Prenhallindo
siti marchamatun sk 109.172
BalasHapusingin bertanya
Bagaimana seorang leader menangani anggotanya yang sedang berkonflik dengan anggota yang lainnya yaitu perawat yang mendekati pasien dan keluarganya untuk mendapatkan simpati dari keluarga pasien serta mendapat keuntungan(tips)dari keluarga pasien sehingga membuat perawat yang lainnya membuat cemburu, bagaimana solusinya agar konflik tidak terjadi lagi dan apa sangsinya bagi yang melakukan hal seperti itu?
Terima kasih. . .
Tri wulan (sk.109.195),, ingin menanggapi pertanyaan dar siti marchamatun.
BalasHapusmenurut pendapat saya, memang sudah kewajiban sebagai seorang perawat melayani pasien dengan ramah / dengan menggunakan komunikasi terapeutik.
kita sebagai seorang leader/pemimpin :
mempertemukan anggota yang sedang berkonflik,
dengan menceritakan masalah yang sebernarnya yang sedang terjadi,jika sudah saling menceritakan, kita mempersatukan kepada anggota dengan cara penyelesaian konflik secara musyawarah..
sebenarnya karakteristik dari masing-masing individu/anggota tersebut berbeda, ada yang ramah kepada pasien dan ada yang cuek/acuh.
begitu mb marcamatun itu menurut pendapat saya ,
bagaimana teman2 dari kelompok 2 apa ada yang ingin menambahkan?? kita diskusi bersama
:)
trimsss
asslamu'alaikum....
BalasHapussiti mutmainah (sk.109174)
mau tanya?....
bagaiman seorang pemimpin yang baik dalam menyikapi koflik yg ada dalam sebuah organisasi jelaskan!!!!.......
trima kasih.....
Silvian Hendra (SK 109.169)
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan mbak mutmainah :
dilihat dulu konflik seperti apa yang sedang ada apakah membahayakan organisasi, kelomok atau klien(pasien), dan sebagai pemimpin menyikapi konflik dengan pikiran tenang, kemudian akan mencari informasi tentang masalah/isu yang ada kemudian akan menganalisa dan mencari jalan keluar untuk permasalah itu.
jadi pemimpin akan mengferivikasi pada kedua belah piha yang berkonflik, dan akan menjadi fasilitator dalam mengubungkan kedua belah pihak yang berkonflik.serta membantu membuat surat pernyataan tidak akan mengulaing kejadian itu antara kedu belah pihak.
Wirda Ro'ikhatut Tamamah
BalasHapussk.109.208
saya Akan menambahi jawaban Mb Tri Wulan dari pertanyaan Mb Marchamatun,,,langkah pertama jelas kita sebagai leader mempertemukan kedua belah pihak untuk saling mengungkapkan perasaannya sehingga masalah jelas. kalau menurut saya pribadi,mengambil simpati dari klien itu sah- sah saja mb, selagi itu klien tidak merasa dirugikan. setiap perawat pelaksana masing - masing punya kewajiban mengelola kleinnya, terserah perawat itu mau mengapakan klien asal itu sesuai dengan prosedur dan tidak merugikan orang lain.Dan untuk perawat yang cemburu ini,kita beri nasihat, masukan kalau memang dia tidak suka dengan cara kerja patnernya ya disuruh bicara dengan baik - baik,tanya baik-baik, nantinya kan perawat yang bersangkutan itu bisa menjelaskan alasannya seperti itu kenapa, jadi semuanya bisa jelas dan tidak menimbulkan konflik.
masalah sangsi, bisa kita lihat dulu, ini akan berpengaruh pada proses asuhan keperawatan atau tidak, selagi tidak mengganggu saya rasa tidak perlu diberi sangsi, cukup kita fasilitasi untuk menyelesesaikan secara baik-baik, dan berjanji bahwasanya tidak akan terjadi lagi masalah seperti ini.
saya wiwi susanti (109.209)
BalasHapusassalamulaikum...
saya mau bertanya,,,
konflik ini bisanya sering terjadi dimanpun tempatnya,lah,,menurut kelompok anda bagaimana cara kita menghindari terjadinya konflik???
trimakasih....
SRI MUJIYANTI(SK.109.181)
BalasHapusMau tanya nich,,,
dari strategi penyelesain konflik menurut anda strategi mana yang paling tepat untuk menyelesaikan konflik???
makasihh
silvian hendra (sk.109.169)
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan dari mba wiwik susanti, cara menghindari konflik yang negatif adalah dengan cara :
1. berkomunikasi yang efektif dan benar (biasanya konflik terjadi karna miskomunikasi)
2. disiplin (waktu, pekerjaan dan llain)
3. saling oleransi terhadap anggota tim
4. berperasangka baik/berpikiran positif
5. kerja sesuai dengan SOP
silvian hendra (sk.109.1690
BalasHapusMenanggapi pertanyaan mbak sri mujiati :
semua strategi bisa di gunakan tapi lihat situasi atau kondisinya, sejauh manakah konflik / Isu yang berkembang tersebut mempengaruhi Organisasi / tujuan Organisai tersebut,Pemimpin/Menejer bisa menggunakan Strategi menghindar, akomodasi, kompetisi, kompromi dan kerja sama.
yohan irianda sk 109 211
BalasHapusbagai mana kalau konflik itu terjadi karena kesalahan kita sebagai seorang leadersip bagai mana kita membuat keadaan ini menjadi normal kembali???//
Tri wulan (sk.109.195),,
BalasHapusingin menanggapi pertanyaan dari mz yohan irianda trimakasih atas pertanyaanya..
setiap organisasi dimana manusia berinteraksi pasti mempunyai terjadinya sebuah konflik,, begitu juga kesalah leader/pemimpin..
langkah yang harus kita lakukan yaitu,,
1.menggunakan komunikasi yang baik(efektif), tentunya dengan komunikasi yang efektif,karena dengan menggunakan komunikasi yang efektif itu akan membuat masalah menjadi berkurang.
2. menyimpulkan suatu solusi ,, yaitu dengan cara mengumpulkan masukan-masukan yang positif, mengenai jalan keluar dari masalah tersebut.
3. mengevaluasi dari konflik itu sendiri, baik dari anggota maupun pemimpin itu setelah berdiskusi dapat menyelesaikan konflik tersebut.
begitu mz yohan,, bagaimana???
Sri Bidayati
BalasHapusSK.109.180
Saya mau bertanya pada kelompok anda
Faktor - faktor apa saja yang dapat mencegah terjadinya konflik???
siti chaeriyah.sk 109.170
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan dr sri bidayati tentang ;
faktor yang dapat mencegah konflik itu meliputi:
1. disiplin yaitu mempertahankan disiplin. dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik misalnya manajer perawat harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi.
2. pertimbangan pengalaman dalam tahapan kehidupan yaitu: konflik dapat dikelola dengan mendukung perawat untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya.misalnya: perawat junior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk menduduki jabatan yang tinggi.
3. komunikasi yaitu: suatu komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapiutik dan kondusif. suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk menghindari konflik.
4. mendengarkan secara efektif yaitu: hal paling penting dalam mengatasi konflik misalnya untuk memastikan bahwa penerimaan para manajer perawat telah memiliki pemahaman yang benar.
itu mb atik jawabannya menurut saya.....
suswanti kelompok 5
BalasHapusmau ikut tanya ea,,
kalau menurut anda mana sih yang akan diprioritaskan antara konflik pribadi dan konflik dengan orang lain,mana dulu yang akan anda selesaikan,..????????
Tri wulan (sk.109.195),,
BalasHapusingin menanggapi pertanyaan dari mbak sus,
menurut saya,,
kita lihat terlebih dahulu konflik yang lebih penting itu yang mana,yang harus ditangani terlebih dahulu yang mana konflik pribadi/orang lain.
karena yang namanya organisasi dimanapun pasti terjadi konflik baik konflik itu mudah untuk di tangani/berat(sulit) untuk ditangani.
maka dari itu kita lihat dulu dari konflik tersebut yang harus diselesaikan terlebih dahulu yang mana??
begitu mbak sus menurut saya,,,
bagaimana mbak suswanti??